Powered By Blogger

Kamis, 23 Juni 2011

7 Penyebab Mahasiswa/Mahasiswi Kuliah Menjadi Lama

Mahasiswa merupakan fase transisi sebelum masuk dan terjun ke dunia permasalahan pada masyarakat umum. Mahasiswa merupakan calon pengemban misi dan tugas yang diwariskan dari generasi sebelumnya, disinilah terlihat peran mahasiswa yang dikatakan sebagai iron stock (dikatakan sebagai besi (iron) karena suatu saat pula besi yang baru akan berkarat dan harus diganti dengan besi yang baru lagi).

7 Penyebab Mahasiswa/Mahasiswi Kuliah Menjadi Lama

1. Kuliah karena terpaksa
Melihat anaknya diwisuda adalah kebanggaan bagi setiap orang tua. Dari lubuk hati setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi seorang yang pintar dan sukses. Bahkan memaksa anaknya untuk kuliahpun bisa saja mereka lakukan. Berawal dari sebuah keterpaksaan inilah maka ketika sudah menjadi mahasiswa, dia enggan untuk serius dalam kuliah, apalagi pengen cepat-cepat diwisuda.

2. Salah jurusan
Kalah dalam persaingan SPMB/UM PTN/PTS yang memiliki jurusan-jurusan favorit, menyebabkan banyak mahasiswa memilih jurusan lain (yang tidak diminati) sebagai pelarian ketika tidak diterima. Tujuannya adalah agar mereka tetap bisa kuliah meski jurusan itu bukan yang diminati.

3. Terlalu menikmati kebebasan karena jauh dari ortu
Anak Mami kalau kita sering sebut, terkadang juga menjadi faktor kuliah lama. Rendahnya pengawasan dari orang tua (jauh dari ortu) terkadang kebebasan itu dimanfaatkan secara berlebihan. Kerjanya maen, pacaran, begadang tiap malam, nongkrong sana-sini dan lain-lainnya.

4. Sibuk mengikuti organisasi kemahasiswaan ataupun Ormas
Tingkat Intelegency Emotional (IE) yang lebih besar daripada IQ mendorong mahasiswa untuk lebih senang berorganisasi, bersosialisasi, bertukar pikiran dan melakukan kegiatan-kegiatan atau bergabung dengan Ormas daripada belajar. Kesibukannya itu terkadang menghabiskan uang, tenaga, pikiran dan juga waktu sehingga kuliah terabaikan dan bukan prioritas lagi.

5. Menekuni hobi secara berlebihan
Soft Skill yang dimiliki mahasiswa mendorong untuk menjadi hobi. Hobi kalau dilakukan secara wajar itu baik, tapi kalau berlebihan, pasti mengganggu kegiatan lainnya. Beberapa hobi seorang mahasiswa antara lain: ngegame, ngeband, billiard, Playstation, ngenet, Futsal, dll.

6. Bisa mendapatkan uang sendiri (kerja)
Kerja terkadang dibutuhkan bagi mahasiswa, terutama yang kurang mampu ataupun untuk menambah uang saku. Tetapi tidak sedikit pula dari mereka yang terlena dengan pekerjaannya itu. Alasannya simple, ujung akhir dari kuliah adalah mendapat gelar sarjana yang bisa digunakan sebagai sarana untuk mencari kerja sehingga menghasilkan uang. kalau kuliah saja sudah bisa punya uang sendiri, kenapa harus buru-buru lulus??? Makanya mereka lebih senang kerja daripada ngurusin kuliahnya.

7. Tidak adanya jaminan kerja setelah lulus
Tidak adanya jaminan inilah yang paling banyak membuat mereka lebih milih lama kuliah daripada lama nganggur. Prinsipnya : Rezeki itu sudah ada yang ngatur, dan kalau sudah rejeki, gak bakal kemana. Jadi, buat apa cepat-cepat lulus kalau ujung-ujungnya nganggur?? Yang sudah sarjana saja banyak yang nganggur kok.

Kamis, 09 Juni 2011

Idealisme Mahasiswa Vs Mahasiswa Ideal

Mahasiswa ideal bukan hanya dengan menjadi kutu buku dengan ciri kacamata minus tebal, atau yang hanya rajin mengikuti kuliah demi kuliah.

Mahasiswa ideal adalah yang juga berani bersentuhan dengan persoalan masyarakat. Namun sentuhannya didasarkan pada cita-cita ideal keilmuan yang bermakna, bukan lepas makna. Sehingga, ketika menjadi corong masyarakat, itu karena memang suara di loudspeaker-nya dibutuhkan pada ruang dan waktu yang tepat.
====
Banyak sorotan yang telah diarahkan pada perilaku mahasiswa saat ini. Sorotan terutama pada aktivitas demonstrasi yang dilakukannya. Mahasiswa bahkan sering diidentikkan dengan demonstrasi. Jalan raya di depan sebuah perguruan tinggi telah diketahui sebagai tempat yang empuk bagi aksi demonstrasi mereka.

Demonstrasi adalah ekspresi idealisme mahasiswa. Dengan demonstrasi, mahasiswa menyalurkan pikiran, pandangan, dan kritiknya. Demonstrasi selama ini sepertinya menjadi parlemen jalanan bagi mahasiswa.

Mengapa mahasiswa senang berdemonstrasi? Dengan mudah menjawabnya bahwa untuk menunjukkan protes terhadap kebijakan atau perilaku luar yang dianggapnya merugikan masyarakat, termasuk masyarakat kampus yang mereka wakili.

Lalu mengapa mereka sering melakukan demonstrasi di jalan raya? Itu adalah bagian dari upaya untuk mencari perhatian publik, dan hakikat demonstrasi adalah aksi yang seharusnya diperlihatkan. Karena bila dilakukan di dalam kampus,

ada kehawatiran bahwa suara mereka tidak langsung didengar oleh masyarakat atau pejalan raya. Bahkan ada kekhawatiran tidak diliput oleh media yang bisa diakses oleh masyarakat secara luas.
Persoalannya, mengapa mahasiswa sering terjebak pada aksi demonstrasi yang anarkis? Di sinilah masalahnya.

Kecenderungan pemahaman mahasiswa bahwa sebuah demonstrasi yang sukses bila menimbulkan dampak karena dampak itulah yang nantinya bakal menjadi pertimbangan pengambil kebijakan untuk menimbang ulang protes secara terbuka yang dilakukan oleh mahasiswa.

Karena dampak itulah, mahasiswa berdemo di jalan raya ramai yang sering menimbulkan masalah. Jalan raya bukanlah diperuntukkan untuk tempat demo. Jalan raya adalah tempat umum yang dilalui oleh orang-orang yang mempunyai hajatan, keperluan, atau urusan,

yang mungkin ada yang di antaranya yang sangat mendesak. Menghalangi mereka karena jalanan terblok tentu menjadi masalah tersendiri. Sementara urusan yang mereka jalankan bukan saja untuk kepentingan mereka sendiri.

Ketika mereka sudah berada di jalan raya, mahasiswa sangat rentan disusupi oleh pengaruh yang membuat mereka lepas kontrol karena provokasi dari orang-orang tertentu untuk mengarahkan mahasiswa bertindak anarkis, misalnya saat berhadapan dengan aparat keamanan.

Murni Idealisme?

Ironis memang selama ini, karena mahasiwa memperjuangkan nasib rakyat, termasuk nasib mereka yang terhalangi saat mahasiswa berdemo di jalan raya. Sebuah ironi karena yang diperjuangkan adalah sebuah cita-cita ideal menurut persepsi mahasiswa,

tapi terkadang cara memperjuangkannya adalah kontraproduktif dengan idealisme tersebut. Perjuangan dengan cara meresahkan pengguna jalan, merusak jalan raya karena membakar ban, menyebar polusi karena emisi dari ban yang terbakar, menyandera pengendara mobil tangki atau truk, tentu semuanya cara yang cenderung bertolak belakang dengan pencapaian idealisme itu.

Menjadi mahasiswa yang memiliki idealisme memang perlu. Mahasiswa selalu dikaitkan dengan idealisme, bahkan menjadi mahasiswa selalu diidentikkan dengan idealisme itu sendiri. Mahasiswa sering dilihat seperti kelompok terpelajar yang belum memiliki kepentingan politik praktis, sehingga gagasan dan pikiran mereka cenderung dianggap objektif.

Mahasiswa sering ditempatkan sebagai mereka yang belum terkooptasi oleh kepentingan materi karena hidup mereka belumlah dicekoki oleh peran materi yang terkadang menyelewengkan niat tulus. Mahasiswa sering dikaitkan dengan mereka yang apa adanya, tidak neko-neko, sehingga gerakan, pikiran, kritik dan aksi sosialnya dianggap sebagai murni untuk tujuan perubahan.

Namun, idealisme mahasiswa yang sering dilengketkan di atas belumlah cukup untuk mengantar mereka menjadi mahasiswa ideal. Mahasiswa yang melakukan demo secara anarkis adalah bisa saja mereka memiliki idealisme. Mereka digerakkan oleh idealisme yang mampu menggetarkan otak dan otot mereka untuk beraksi.

Mahasiswa ideal sejatinya dilihat dari sudut pandang aktivisme dan pemikiran. Dua hal yang berpadu dalam tradisi kehidupan kampus yang mereka lakoni. Dari segi aktivisme, gerakan mahasiswa telah menoreh catatan penting terhadap sejarah pencarian identitas bangsa ini,

mulai dari sejak awal berdirinya sebagai negara bangsa sampai pada kontribusinya yang menentukan pada lahirnya Orde Reformasi di negeri ini. Di sisi lain, dari mahasiswa-lah yang diharapkan muncul bibit pemikir pembangunan bangsa dengan pikiran-pikiran brilian yang mampu menerobos sekat-sekat keilmuan dan melahirkan pencerahan pengetahuan untuk kesejahteraan masyarakat.

Artinya, menempatkan mahasiswa dalam kerangka ideal memang perlu melihat dari dua unsur tersebut. Mahasiswa ideal dalam perspektif penulis adalah bukan karena semata yang mempunyai idealisme. Mahasiswa ideal adalah yang mampu menampilkan idealismenya dengan cara yang elegan.

Mereka mampu melihat secara jelas cara yang terbaik mengekspresikan idenya. Mereka melihat bahwa cara-cara yang banyak dilakukan selama ini bukanlah sesuatu yang ideal. Mereka mampu melihat indikator tidak idealnya cara tersebut.

Misalnya, banyaknya keluhan dari masyarakat umum apakah melalui bincang-bincang di gardu, melalui sms dan surat pembaca di media dan juga keprihatinan dari pemerintah sendiri atas ulah tersebut.

Singkatnya, menjadi mahasiswa ideal adalah mereka yang mampu membaca dan mengalkulasi efek dari aksi-aksi mereka, termasuk efek berupa pandangan masyarakat luas. Mahasiswa ideal adalah mereka yang turun ke jalan raya bila memang masyarakat secara luas menghendakinya.

Mahasiswa ideal adalah mereka ingin memecahkan masalah masyarakat tanpa menimbulkan masalah lebih besar seperti yang sering terjadi selama ini.

Mahasiswa ideal adalah mereka yang aksinya selalu mempertimbangkan tanggung jawab pencitraan. Mereka mempertimbangkan citra yang harus dipelihara di pundaknya, apakah sebagai harapan orang tua, pemuda harapan umat, calon intelektual negeri, dan pelanjut generasi bangsa.

Mereka berbuat atas dasar pertimbangan pencitraan dan tanggung jawab sosialnya tersebut. Bila aksinya mengancam beban pencitraan tersebut, maka mereka tidak akan melakukannya.

Mahasiswa ideal adalah mereka yang berorientasi pada pemberdayaan pemikiran, yaitu yang rajin melakukan pengasahan intelektual. Mereka sadar bahwa mengasah intelektual tentunya tidak bisa dilakukan di jalan raya atau di pintu gerbang kampus.

Mengasa intelektualitas sejatinya dilakukan di meja kelas, di perpustakaan, di pusat-pusat kajian dan pengkaderan. Pengasahan intelektualisme inilah yang merajut mahasiswa untuk memiliki ketajaman berpikir.

Ketajaman berpikir inilah yang kelak diharapkannya sebagai modal penting setelah meninggalkan kampus. Pikiran-pikiran mencerahkan adalah hal yang sangat berguna untuk dibagi ke masyarakat. Singkatnya, mahasiswa ideal adalah mereka yang tercerahkan.

Dalam kaitan dengan visi UIN Alauddin sebagai lembaga pendidikan Islam tempat menggodok mahasiswa, mahasiswa ideal adalah mereka yang memiliki "inner power" atau istilah Rektor UIN Alauddin adalah "inner capacity".

Inner capacity yang menjadi visi pengembangan UIN Alauddin pada masa kepemimpinan Azhar Arsyad setidaknya memiliki empat aspek penting. Pertama, pembelajaran mahasiswa untuk menjadikan mereka memiliki perangkat akhlak mulia. Dengan orientasi pendidikan untuk pembenahan akhlak mulia, perilaku mahasiswa diharapkan mampu menampilkan perilaku yang menenangkan bukan meresahkan.

Aspek pertama ini tentunya mencegah demonstrasi yang anarkis dan tidak produktif. Aspek berikutnya, mahasiswa yang terampil. Mahasiswa yang terampil inilah yang mengarahkan pada kemampuannya untuk hidup secara layak di masyarakat.

Aspek berikutnya adalah mahasiswa yang berpengetahuan luas. Mereka memiliki wawasan yang diperlukan untuk berkontribusi pada kompleksitas kehidupan, termasuk pengetahuan bahasa asing. Aspek yang terakhir adalah kemampuan berpikir bebas.

Mahasiswa dengan aspek ini akan memiliki kreativitas dan kemampuan berimajinasi serta improvisasi dalam penjelajahan ilmu. Karena memiliki akhlak yang mulia, pemikiran bebas yang dimilikinya tidak dihawatirkan untuk menimbulkan keresahan sosial.

Menjadi mahasiswa ideal tidak perlu menjadi spiderman, sebuah cerita fiksi manusia laba-laba yang bisa terbang dan melengket di gedung-gedung tinggi sebagai penyelamat setiap ada anggota masyarakat yang menghadapi masalah,

karena memang itu hanya dalam cerita komik dan film Hollywood yang tidak mungkin dilakukan bukan hanya oleh mahasiswa, tetapi manusia secara umum. Untuk menjadi ideal, mahasiswa hanya perlu menyelamatkan dirinya dari "korban" idealisme,

yaitu mereka yang hanya menjadikan demonstrasi sebagai kompensasi kesemrawutan kuliahnya, dengan gagah-gagahan berteriak di jalan dikelilingi gumpalan asap ban yang dibakarnya.

Senin, 30 Mei 2011

Kenapa Wanita Lebih Cepat Dewasa?

Dibandingkan dengan kaum laki-laki, wanita memang lebih cepat dewasa. Wanita lebih mudah mengatur kesejahteraan psikologis mereka dibanding laki-laki setelah masa remaja.

Peneliti dari Departemen Psikologi Univercity of Alberta, Kanada Nancy Galambos mencoba mempelajari bagaimana remaja usia 18 sampai 25 tahun melakukan transisi dari remaja ke dewasa.

Menurut penelitian tersebut dikatakan perempuan memiliki tingkat yang lebih tinggi untuk gejala depresi dan rendah harga diri dibanding laki-laki seusia mereka.

Remaja merupakan tahap transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan dewasa secara penuh. Seiring bertambahnya waktu,

secara biologis mereka mengalami perubahan menjadi orang dewasa. Tetapi secara emosional bisa jadi tidak sepenuhnya matang.

Hasil lainnya menunjukkan, meskipun mereka sudah menjadi dewasa dan dihadapkan dengan keragaman pilihan hidup, wanita terlihat lebih mudah berdamai dengan diri mereka sendiri ketika menginjak usia 20-an.

Penelitian lainnya yang diumumkan dalam Journal Developmental Psychology menambahkan kalau kemampuan mengatur psikologis dalam diri wanita menjadikan wanita lebih mudah menerima kesetaraan gender yang biasanya bergejolak pada masa remaja.

Saat remaja laki-laki lebih membeda-bedakan mana yang memang pantas dilakukan laki-laki dan mana yang hanya pantas dilakukan oleh wanita.

"Fakta bahwa wanita muda lebih cepat dewasa dibanding laki-laki muda memang sudah sering kita dengar, tapi penelitian ini adalah kejutan yang bisa melengkapi cerita yang ada," ujar Galambos.

Jumat, 29 April 2011

3 Aktivitas Menyenangkan Saat Sendiri

Kesendirian bisa menjadi hal yang menyenangkan, bahkan dapat menghadirkan pengalaman positif yang bermanfaat. Yang penting bagaimana mengisi kesendirian ini. Berikut cara yang bisa dilakukan untuk menikmati waktu sendiri.

1. Membaca buku

Ini mungkin tampak biasa, tapi jika Anda adalah tipe orang yang tidak punya waktu untuk membaca karena tidak memiliki waktu luang, tak ada salahnya menikmati membaca buku. Seandainya Anda tidak memiliki buku menarik, cari rekomendasi dari teman, mengunjungi perpustakaan atau datang ke toko buku untuk mendapatkan buku yang bisa menginspirasi kehidupan.

2. Mengunjungi objek wisata budaya

Pergi ke museum atau mengunjungi galeri seni saat Anda sedang sendirian bisa menjadi aktivitas menyenangkan. Tidak peduli di mana Anda tinggal, di tempat itu akan banyak pemandangan menarik dan barang-barang unik yang mungkin bisa menjadi bagian dari koleksi Anda di rumah.

3. Menggoyang lidah dengan hidangan lezat

Tidak perlu menunggu mendapatkan pasangan untuk bisa menikmati makanan lezat di restoran mewah. Saat Anda sedang sendiri memanjakan lidah dengan makanan lezat, akan memberikan kepuasan tak terhingga.

Jumat, 22 April 2011

1 mata kuliah mencakup 23 SKS, hahah

Semester 4 ini rasanya terlalu sibuk..
anehnya dari 23 SKS yang saya ambil, rasa-rasanya hanya ada 1 mata kuliah yang mendominasi...

SPASIAL INFORMASI KEHUTANAN...

apa mungkin mata kuliah ini mencakup 23 sks yang saya ambil itu??
kemarin baru selsai gambar polygon, sekarang d suruh lagi buat kontur...

bunuh ma saja langsung asisten....

harapanku yang terakhir dgn mata kuliah ini,.
mudah-mudahan saja hasilnya berbanding lurus dgn tugas-tugas yang selama ini diberikan...
amin.... amin.. amin...

Kamis, 24 Maret 2011

CINTA atau NAFSU

Banyak faktor yang membuat rasa cinta tumbuh. Seiring dengan perjalanan cinta, rasa cinta dan nafsu pun susah dibedakan. Jadi bagaimana Anda tahu apakah itu cinta atau nafsu

Seorang Antropolog dari Rutgers University, Professor Helen Fisher, menjelaskan cinta dan nafsu itu berbeda. Nafsu dapat muncul seiring perjalanan cinta seperti dikutip dari howstuffworks, Kamis (24/3).

Fisher mengatakan, antara cinta dan nafsu ada komponen emosional dan fisiologis yang berbeda. Romantisme dan perasaan cinta seseorang mendorong dopamin dan kadar serotonin, yang menyebabkan perasaan gembira dan hilangnya nafsu makan. "Ketika kita sampai ke titik perasaan tersebut dan makin panjangnya jangka percintaan, tubuh kita menghasilkan lebih banyak oxytocin (dikenal sebagai "hormon cinta").

"Sementara gairah seks dan nafsu untuk seks dapat datang selama proses percintaan yang dihasilkan oleh kadar testosteron yang meningkat, baik pada pria maupun wanita. Semakin tingginya kadar testosteron menginspirasi perasaan yang terfokus pada perhatian dan gairah seksual," jelasnya.

Umumnya, lanjut Fisher, perasaan cinta itu muncul dari daya tarik seseorang. Kaum pria cenderung jatuh cinta dengan wanita dari wajahnya yang cantik. Sementara kaum wanita lebih tertarik dengan pria yang berdompet tebal.

"Kita cenderung memilih pasangan yang memiliki daya tarik dengan tingkat yang sama. Dari sudut pandang evolusi, ini masuk akal karena pria ingin memperbaiki keturunan mereka sementara wanita mencari pria yang dapat membantu mereka untuk menyokong kebutuhan anak-anak mereka," ujarnya.

Lalu apakah usia mempengaruhi keinginan untuk seks "Laki-laki muda memiliki testosteron 10 kali lebih pada awal 20-an, dan ini adalah puncak dorongan seks mereka. Di sisi lain, dorongan seksual untuk wanita saat berusia akhir 20-an dan awal 30-an," ujarnya.

Menurut Fisher, semakin menurunnya tingkat testosteron pada pria cenderung membuat mereka lebih mengasihani. Sebaliknya, dengan menurunnya tingkat estrogen pada wanita seiring dengan usia, mereka akan menjadi lebih tegas. "Ini ada hubungannya dengan kenyataan bahwa proporsi testosteron dalam sistem wanita memainkan peran yang lebih besar layaknya estrogen," katanya.(MEL)

Sabtu, 12 Maret 2011

strategi sukses manajemen waktu untuk mahasiswa dalam mengatasi permasalahan pembagian waktu

strategi sukses manajemen waktu untuk mahasiswa dalam mengatasi permasalahan pembagian waktu
1. Belajar dimulai dari subyek yang membosankan atau sulit terlebih dahulu.
Alasannya adalah ketika kita dalam keadaan segar, informasi-informasi yang diperoleh akan cepat diproses sehingga kita bisa menghemat waktu. Selain itu akan lebih mudah mendapatkan semangat atau motivasi untuk mempelajari hal yang menyenangkan ketika keadaan kita sedang lelah daripada harus mempelajari hal / subyek yang membosankan.
2. Tentukan dan identifikasi waktu yang terbaik untuk kita, setiap hari.
Apakah anda merasa termasuk seseorang yang “night person” atau “morning person”? Coba gunakan waktu terbaik yang anda miliki itu untuk belajar. Tentu saja belajar pada waktu terbaik itu setiap harinya, sehingga memungkinkan anda dapat menyelesaikan tugas didalam waktu yang lebih singkat.
3. Cukup dan Berkualitas, itulah kunci untuk tidur dan makan.
Adakalanya ketika ada tugas membutuhkan waktu dan energi yang cukup banyak, kita melupakan atau mengabaikan makan atau tidur. Bahkan tidur pun kadang kala bisa dianggap sebagai “bank” didalam manajemen waktu, ketika harus selesaikan tugas yang belum selesai, waktu tidur pun diambil untuk menyelesaikan tugas. Hal seperti itu tidak efektif karena tubuh akan lebih membutuhkan energi yang lebih banyak untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut agar tidak kelelahan dan konsentrasi tetap terjaga.
4. Tempat atau lingkungan belajar yang kondusif
Pastikan anda mendapatkan tempat belajar yang kondusif yang jauh dari gangguan, mungkin bisa di perpustakaan karena perpustakaan merupakan tempat baik untuk belajar tetapi perpustakaan jam operasinya terbatas.
5. Gunakan waktu menunggu
Ketika menunggu kendaraan atau transpotasi umum untuk pulang pergi kampus, waktu tersebut bisa dimanfaatkan untuk membaca atau ketika menunggu teman, selalu bawa catatan kecil atau ringkasan subyek kuliah, meskipun hanya satu paragraf.
6. Jangan lupa dan jangan tinggalkan rekreasi
Kuliah, bukan berarti harus belajar sepanjang masa, tetap harus mempunyai kehidupan sosial yang baik. Misal berkunjung ke teman atau mengerjakan hobi yang anda sukai.